Juara Yang Lancung

Itu judul cerita buku bahasa indonesia sekolah dasar kelas berapa ya? Taon bahuela. Lancung artinya tidak tulen,  palsu, tiruan, tidak jujur, curang.

Dalam dunia usaha, dan dalam kehidupan sehari hari, sering terjadi kecurangan kecurangan dari sekala kecil sampai skala nasional. Tujuannya tentu saja untuk memudahkan menyelesaikan satu pekerjaan. Dari mencontek saat ujian sampai memanipulasi anggaran.

Secara psikologis, mula mula dilakukan dengan perasaan was was dan takut. Seiring bertambahnya waktu, apabila dilakukan secara terus menerus, akan menjadi kebiasaan dan lama lama  menjadi karakter. Namanya juga karakter, sudah melekat bawaannya curang mulu.

Bagaimana sikap terbaik menghadapi kecurangan apalagi bila menyangkut dengan proses yang sedang kita tempuh?

Ikut dalam aksi curang adalah pilihan yang mendomasi keinginan. Biasanya begitu. Tapi mengikuti keinginan, kemudian menyusun bluprin kecurangan baru, hanya akan menunjukkan bahwa kita sama dengan pelaku curang itu. Bedanya cuma satu,  mereka curang duluan, dan kita belakangan. 😀

Belajar memahami bahwa rizki kita, proses kita tidak lah berbanding terbalik dengan tingkat kecurangan mereka, adalah pilihan terbaik untuk dilakukan. Belajar memahami bahwa proses kita, hasil kita berbanding lurus dengan tingkat ikhtiar horizontal – vertikal kita, adalah pilihan jitu. Begitu saya sering kali dinasehati oleh senior senior saya. Bahwa intinya kecurangan itu hanya berpengaruh pada pelakunya dan tidak berpengaruh kepada kita. Susah memang.

Energy yang dikeluarkan untuk menyusun bluprin dan aksi kecurangan, tidak bisa dipungkiri adalah energy negatif yang panas. jauh lebih baik bila kita fokuskan lagi pada strategy baru untuk menajdikan kita lebih maju. Susah memang!

Upline saya yang luar biasa,  Pak Ikhsan meyakini bahwa Sunnatulloh lah yang akan bicara.

Hasbunallohu Wa Ni’mal Wakiil

Monggo silahkan dikomeni…..

 

Posted on Januari 23, 2012, in Bisnis, Cerita, Motivasi, Obrolan Angkring, Renungan, Umum. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: