Padi Politik

Kasihan bang Supri Toyong, atau Supri Tuyung. Boleh jadi niatannya baik. Dan boleh jadi bukan Supertoy nya yang bikin letoy. Seperti tulisan sebelum ini, ada banyak faktor yang menyebabkan kegagalan Supertoy di panen. Varietas Bibit, Air, Pupuk, Hama Penyakit, Cuaca dan juga ternyata SDM. Nyatanya da juga yang masih mo nerusin nanem ni supertoy. Di Madiun lo ndak salah.

  1. Bibit. Biarlah jadi urusan orang pinter bibit, seberapa mutu supertoy sebenarnya.
  2. Air. Masih terlintas di ingatan ketika tayangan di TV, pas di Bali lo ndak salah, tanah di mana supertoy ditanam terliat sampai pecah pecah kekeringan. Nggak jamin varietas unggulpun bakal panen baik. Perlu dicermati juga di tempat lain. Cukupkah airnya?
  3. Pupuk. Expose kasus supertoy ini sayangnya ndak ada yang secara ditel njelasin berapa dosis dan komposisi dipakai. Seberapa dan bagaimana komposisi Makro diberikan, seberapa si Mikro dilengkapkan. Data dilapangan, dengan hanya makro saja, dengan varietas unggul sekalipun, dengan perawatan baik, rata rata hanya didapat 6-8 ton gabah kering panen. Logika panen s.d. di atas 10 Ton selalu melibatkan pemupukan yang berimbang dan tidak pernah lepas dari campur tangan pupuk organik.
  4. Hama penyakit. Bagaimana penanggulangan hama penyakitnya?. Pernah diulas di TV bahwa supertoy ini identik dengan padi lokal Jawa, yang notabene dari ahli bibit UGM lo ndak salah saat itu, rentan terhadap hama penyakit. Tetapi dengan penggunaan pengendali hama hayati dan kimia yang terrencana, kayaknya bisa diatas, tuh. Diminimalisir lah.
  5. Cuaca. Semua di atas terpenuhi dengan baik. Pas saat bunga keluar, pas saatnya penyerbukan, hujan deras. Ya… gimana lagi. Kalo ndak salah jadi ndak brisi tuh padi. Dan banyak lagi pengaruhnya.
  6. SDM. Semua itu dapat dicapai hanya dan hanya bila Pola Pikir Petani kita sudah mapan. Mapan dalam arti siap melakukan budi daya padi sesuai dengan teknologi yang tepat. Bukan hanya di padi. Inilah sebenarnya PR terberat bangsa ini, PR Natural Nusantara, membawa petani kepada teknologi pertanian yang K3. Kuantitas, Kualitas dan Kelestarian.

Hail lain yang sangat penting adalah: Padi singgangan itu bisa dilakukan. Tapi ingat ada beberapa syarat yang harus diperhatikan. Syaratnya nggak terpenuhi, ya gagal. Syaratnya terpenuhi?. Di lahan pasir pantai yang sedemikian ekstrim, Natural Nusantara mampu panen Rojolele 4-5 kali satu kali tanam. Ya dengan singgangan itu. Dan proyeksi per hektar rata rata di atas 8 ton.

Pernahkan SHI memonitor budidaya singgangan ini secara intensif?.

Petani memang komoditas politik terbesar. Isu kembali pada pertanian sudah mencuat. Tunggu saja, akan banyak bibit dan pupuk berlabel atau bernuansa merah, biru, hitam putih, oren, kuning. Tunggu saja akan banyak pendampingan petani oleh kader kader partai. Tunggu saja akan banyak petani pakai kaos wana warni. Dan itu sah sah saja. Sebagaimana kejamnya politik, maka permainan disana pun akan kejam.

Saran bagi siapapun, kalo mau membimbing petani, ya yang serius lah. Apalagi untuk uji coba, perhatikan lima hal di atas. Dampingilah petani secara benar. Ini kalo mau peduli sama petani. Dan yang jelas peduli sama nasib sampeyan sendiri. Palagi, kalau ada nuansa politis yang sampeyan bawa. Bayangkan bila lawan politik sampeyan merasa terusik.

Yang jelas selama hal itu dilakukan memang benar-benar karena kepedulian untuk memakmurkan petani, untuk tujuan revolusi pertanian Indonesia, anda adalah partner Natural Nusantara. Hanya hati hatilah, petanono sopo konco sopo mungsuh.

Bagaimana ndorokakung?

Posted on September 11, 2008, in Renungan, Umum and tagged , , , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: