Mereka [bukan] korban gempa, kali!

.Bisa jadi ini hanya rasan rasan yang tak ada bukti. Tapi tetap saja mengganggu isi kepala. Sayang, aku hanya bisa mublish disini…..

Hari ini mas Peyek libur. Libur tidak jualan. Angkringane tutup. Sudah jam sembilan mas Peyek masih ongap angop di depan pintu sambil kebal kebul. Mbayar pajak lewat bea cukai tembakau. Sudah paru paru rusak, mbayar, lagi !!

Drajat yang sudah ketebang ketebang dari timur, terpaksa harus kecewa. Kecewa kok harus?. Pak Guru Sabri juga demikian. Tapi tak urung mereka berdua tersenyum senang karena akhirnya mas Peyek nyuguhke teh panas plus pisang goreng. “Le opek mburi omah” kata mas Peyek. Mereka kembali larut dalam obrolan tiga orang sahabat dengan latar belakang beda tapi tetap saja sama dalam kelas ekonomi.

Bukan. Bukan mereka yang dibahas saat ini.

Mengapa mas Peyek sampai tutup adalah cerita tersendiri yang mau tak mau akhirnya mode publised [on]. Tadi malam di rumah pak erte nya mas Peyek ada sukuran rekonsiliasi. Katanya, katanya ada dana sisa dari dana rekonstruksi yang katanya, wong tidak ada bukti otentik, lantas dibagi bagi. Alhasil satu erte kejatah kira kira sejuta. Kalikan saja dengan jumlah erte se Bantul.

Ada yang digunakan untuk pengajian, ada yang dipakai untuk ndhangdhutan, ada yang dipakai untuk wayangan, ada yang dipakai untuk tirakatan. Bagi erte yang tidak punya uang kas bisa juga dipakai untuk jatah lampu penerangan jalan liar yang dipasang dengan nyolong dari PLN. Sudah mbayar pajak penerangan jalan, kilahnya. Lain Erte Lain Ikannya.

Ya, Gempa disamping bencana memang mendatangkan berkah bagi banyak orang. Mereka yang dulu serumah denga mertua, sekarang bisa punya rumah sendiri. Dulu yang satu rumah empat kepala keluarga, sekarang satu kepala keluarga satu rumah.

Bonus bagi yang nikah setelah gempa, mereka juga dijatah rumah. Uenaak to? Sampeyan mau?

Tapi tetangga Drajat ternyata nggak dapat jatah rumah. Padahal masuk dalam keluarga pra sejahtera. Anaknya 4 lagi. Kecil kecil lagi. Dan ternyata ada juga yang serupa dengan itu. Tapi sekali lagi katanya. Wong nggak ada bukti!! Alasannya adalah mereka tidak punya tanah untuk dibangun rumah.

sebelum gempa, biasanya mereka numpang mertua atau ngontrak. Tapi ya itu tadi, mereka tidak punya tanah untuk tempat membangun rumah. Sial bener mereka. Sudah nggak punya tanah, nggak dikasih rumah, lagi!! Oh ya mereka juga nggak dapat jatah yang sedang atau ringan sebagai sekedar bukti bahwa mereka juga korban gempa.

Sementara ada juga yang sudah thuyuk thuyuk, seyogyanya -‘halah’- bisa ikut anaknya, tapi karena ada peluang akhirnya dapat satu rumah sendiri. Akhirnya, karena takut tinggal sendirian di rumahnya, trauma gempa dulu, akhirnya rumahnya dikosongkan. Weleh weleh

Soal yang nggak dapat jatah rumah karena alasan di atas, Mas Peyek cengengsan sambil bilang “Namanya juga gempa bumi, jadi yang nggak punya bumi nggak dapat jatah. Karena mereka bukan korban gempa bumi. he he he!!” Bener Juga!

Posted on April 9, 2008, in Obrolan Angkring, Umum and tagged , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. kok bisa ga merata gitu ya…?
    segala sesuatu memang ada sisi baiknya jika kita mau melihatnya seimbang dengan sisi buruknya.

    wes sue ga krungu ‘ketebang ketebang’ lan wes jarang di gae guneman. :mrgreen:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: