Buka Rekening Sekarang Juga!

Istilah itu milik Pak Muhammad Jazir ASP untuk segera membuka usaha dalam bentuk apapun. Ceritanya kira-kira begini (maaf bila tidak sesuai) seperti di tuturkan dalam sebuah pengajian di Masjid Jogokarian. Waktu itu ada juga inisiator Gerakan Poligami Nasional, pemilik Ayam Bakar Wong Solo. Siapa saya lupa namanya. Puspo Wardoyo mungkin.

Selepas kuliah, pak Jazir bingung mau kerja di mana. Jaman krisis moneter saat itu. Banyak perusahaan gulung tikar. Akhirnya beliau memilih kerja kepada Allah SWT. Lho? Karena Allah SWT tidak akan pernah bangkrut. Selalu Maha Kaya. Begitu landasan vertikalnya. Beliaupun mengabdikan dirinya di AMM Kotagede. Milik Pak As’ad Humam, penggagas Metode Belajar Iqro’.

Pengabdian demi pengabdian, mengajar mengaji demi mengajar mengaji, waktu demi waktu berlalu intinya….

Tak juga hujan rezeki datang tercurah.

Usut punya usut beliau menemukan akar permasalahannya.

Lewat jalan mana Allah akan memberikan rezeki kalau tidak dibuatkan wadah rezekinya?. Dengan kata lain, lewat usaha yang mana Malaikat Pembagi Rezeki akan mengalamatkan rezeki?. Apa lewat usaha orang lain? Apa mak bedunduk jatuh di depan pintu selepas jam 3 pagi?. Lewat rekening yang mana sebagian gaji itu (karena yang terbesar tentu saja terkumpul di rekening yang ada di Malaikat Rakib – ‘Atid) akan di transfer.

Untuk menjembatani itu, akhirnya beberapa usaha dirintis oleh beliau. Dan nyatanya berkembang dengan pesat. Sebagian gaji itupun mengalir ke rekening yang beliau upayakan.

Hampir senada dengan hal di atas, AA Gym pernah mengkaji tentang bagaimana rezeki datang kepada kita. Beliau menegaskan bahwa kita tidak tahu seberapa besar jatah rezeki yang ditetapkan hari ini. Segelas, sepiring atau sebakul atau malah se peti kemas.

Malam ini, Malaikat pembagi rezeki datang kepada kita, dia membawa rezeki 5 piring. Sudah mau diletakkan di piring, eh ternyata kita hanya sediakan 2 piring. Ini orang mau diberi 5 piring kok cuma sediakan 2 piring, ya sudah 2 piring saja. Yang lain dikembalikan kepada Allah.

Esok malamnya berkunjung ke tetangga kita, pengangguran. Malaikat bawa rezeki 1 kontener. Dimana mau diletakkan? Tempat saja tidak ada!. Beruntung bila orang itu ikutan nggak mikir tren SMS nggak mutu berhadiah di tipi tipi itu dan ikut sms. N-E-P-I-P-U. Masih satu menit lagi, ayooo, kira kira artinya tukang ngapusi. Ayo….!! Endonesia endonesia !

Esoknya lagi tersedia rezeki 10 x tambal ban dalam sehari. Rp. 5000,- x 10. Rp. 50.000,- untuk pak Kelik tukang tambal ban ditepi jalan raya. Sebenarnya ia mampu menyelesaikan 20 lebih tambalan dalam 1 hari. Intinya, tempatnya lebih besar dari jatah rezeki. Ya ndak jadi soal.

Logiskah mas Peyek berpenghasilan Rp. 1.000.000,- per hari hanya dengan 1 tempat angkringan saja?. Beda kalau pak Peyek sambil dolanan MLM, Adsense, tukang parkir domain, affiliasi dan sejenisnya.

Maka bisa jadi inilah kesimpulannya :

1. Jalankan usaha untuk mendapatkan rezeki.
2. Jalankan usaha yang logis bisa menghasilkan rupiah banyak.
3. Kalaupun tidak terisi penuh, kita tidak kehilangan jatah rezeki kita, karena selalu kita sediakan tempat yang besar.
4. Apalagi ya? Ada pendapat?

Posted on Maret 5, 2008, in Renungan and tagged , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. Usaha Saya Ini Termasuk Nda Pak Guru ??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: