Obrolan Rolasan : Ribut soal Temasek versus sayur organik

Jalanan seperti biasa, tapi debunya beterbangan minta ampun diterpa bis antar kota. Mas Peyek membenarkan lagi plastik tutup dagangannya. Maklum, dah beberapa minggu ini hujan tidak turun. Katanya ada badai tropis di tengah laut china selatan. Jadinya titik air hujan di indonesia banyak yang kesedot kesana.

Dari radio ada berita tentang Temasek, si raksasa singapura yang katanya bermain monopoli negeri ini.
“Wong cuma main monopoli kok nggak boleh”, mas Peyek nyelethuk sekenanya, sambil mengambilkan rokok eceran untuk Drajat.
“Ini bukan main monopoli kayak mBendhol, anakmu itu.”, Drajat mencoba menjelaskan.
“Lha, Emang ada monopoli yang lain?”, lanjut mas Peyek, “Lagian si Temasek itu, kurang kerjaan, ngapain jauh-jauh dari Singapurake ke Indonesia cuma main monopoli?”.
“Ahh emboh, guneman sama wong kluthuk”, Drajat sewot sendiri.

Sabri hanya senyum senyum dari tadi. Srttt. Es Teh gula sedikit mengalir membasahi rasa hausnya.
“Sebenarnya gimana to, Pak Guru?”, mas Drajat bergeser mendekati Sabri.
“Saya sendiri nggak tau pasti. Tapi jelasnya..”,
“Jelasnya pie, pak Guru. Mosok main monopoli saja nggak boleh?, mas Peyek masih nggak ngerti

Temasek itu Perusahaan Besar di Singapura yang mempunyai saham di Telkomsel dan Indosat hampir 50%. Atau malah lebih, ngak tau pastinya.”
“Lha terus, mengapa nggak boleh?”
“Lha saya juga nggak tahu..”, Sabri mencoba mengakhiri pembicaraan itu.

“Sudah lah mas Peyek, Drajat, kita ini orang kecil, nggak usah ikut mikir hal hal seperti itu. Bukan bidang kita.” Sabri benar benar mengalihkan bahan pembicaraan.
“Pernah dengar Sayuran Organik?” Pancing Sabri

“Blom”, koor drajat dan mas Peyek.
“Kmaren aku liat di TV, katanya sayuran kita ini sudah tercemar pestisida kimia.”
“Pestisida itu… “, mas Peyek hampir selesai.
“Obat yang dipakai untuk membuhuh hama tanaman”, Sabri menjelaskan.”Kata mereka di TV di Magelang dari 500 petani yang diteliti sayurannya, 95% lebih tercemar pestisida”.
“Trus hubungannya dengan kita? apa pak Guru?”, Drajat tidak mudeng.
“Gini, keluargamu sering makan sayur, tomat, wortel, bawang merah – putih dll, nggak”.
“Lha iya dong, pak. Kan sayuran itu sehat”
“Kalau keluarga saya jarang, pak.” mas Peyek menambahi. “Paling sering makan nggak pake sayur. Pake gorengan yang nggak habis.

“Justru di situ masalahnya, Jat. Karena kita sering ngonsumsi sayur sayuran, padahal kita tidak tahu cara nanamnya apakah pake pestisda kimia atau tidak, jadi bahaya”
“Lha tapi kan sebelum di masak di cuci dulu, pak Guru”, Kali ini mas Peyek agak ngilmiah.
“Pestisida kimia itu tidak bisa hilang hanya dengan dicuci. di tanah saja perlu berpuluh puluh tahun untuk menghilangkannya.”
“oooooooo”
“Dan efeknya, dalam jangka lama, penyakit kanker. Nggak tanggung tanggung.”
Semua diam. Merenung.

“Emang petani kita semua pake petsisida kimia?”, Drajat memecah suasana, pingin tahu.
“Ya nggak semuanya…Tapi kebanyakan begitu dan dengan dosis yang sudah kelewatan. Biar hama pada mati”.
“Trus caranya agar kita dapat sayuran yang gak kena pestisida?”
“Ya beli sayur organik, sayur yang tidak tercemar pestisida kimia. Ada banyak di supermarket”
“Pak Guru ini aneh aneh, sayur saja kok beli di supermarket?”, tanya mas Peyek cengengesan.
“Betul sekali. Ada cara agar kira dapat sayuran yang organik”
“Gimana, gimana pak?”, kejar mas Peyek.
“Tanam sendiri dan jangan menggunakan pestisida kimia”,

“Iyaakkk, pak guru ini semakin aneh, lahannya mannnaaaa..?” mas Peyek menirukan iklan pembunuh. Rokok.
“Di pekarangan rumah bisa”
“Lha kalau di pekarangan rumah, terus luasnya berapa pak? ra cucuk.” Drajat berpendapat.
“Ingat tujuan kita tadi, hanya untuk kita konsumsi sendiri”. Sabri menegaskan lagi.
“Iya ya…”
“Ini memang untuk kita sendiri, tapi bila kita mau cerita ke tetangga kita atau keluarga kita yang lain,
bila mereka mau melakukan ini, berarti kita sudah bermanfaat bagi mereka. Dan bukankah umat yang paling baik adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain”. Tegas Sabri sedikit berkotbah.
“Trus, caranya nanam gimana?”
“Kita tanya ke pak Ikhsan. yang sering ngangkring di sini juga”
“Yang PPL itu ya pak Guru”
“Tul, beliau itu jago sayuran organik”

Dari Radio Tjawang mas Peyek, Waljinah mengiyakan..

E E E duh senenge
konco tani yen nyawang tandurane
Konco tani
sokoguru tumrtap negarane.

Posted on November 29, 2007, in Cerita, Obrolan Angkring, Umum and tagged , , . Bookmark the permalink. 4 Komentar.

  1. salam buat mas peyek,

    cuman kalau nanem sayur dewe-dewe lha petani sayur alih profesi opo yo enake..?

    saya juga pecinta sayur lho,kalau di cuci pake cairan pembersih buah dan ayru gimana?

  2. ayru itu opo ya?
    di cuci ndak iso, itu sampai tingkat sel. meresidu. Numpuh di tubuh.

    petani? ya di ajak pola pikir organik.

  3. mas peyek makin jarang makan sayur nih, katanya sayur organik itu lebih mahal ya mas. semoga mas peyek tetap sehat

  4. Aminn. Kalo nanam sendiri kan nggak bayar. di pekarangan, di halaman, di dak dll

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: