Obrolan Rolasan: Sertifikasi Guru, Kado Untuk Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Jam dua belas siang.

Saatnya orang kantoran pada istirahat. Saatnya ruangan kantor sepi. Saatnya orang kantoran pada makan siang. O tapi tidak, ternyata bukan hanya orang kantoran, buruh buruh pun pada istirahat pada jam jam ini. Melepas lelah setelah menukar 4 jam waktunya dengan harapan.

Di angkringan mas Peyek lain lagi. Jam jam segini malah jadi jam jam sibuk.

Sabri, Guru Honorer di SD Luar Negeri, swasta maksudnya, dekat angkringan mas Peyek, sudah dari tadi malit meletakkan pantatnya di lincak. Ngalamun kayaknya. Tangannya saja yang ulik ngupas kacang. Oh ya mulutnya juga, nggayemi.

“Es teh, Yek!. Biasane”, Pintanya pada Mas Peyek.
Tak usah nunggu lama Es Teh pun membasahi kerongkongannya. Mas Peyek memang sudah hafal. Es teh gulanya sedikit.

“Pak Guru, kok tumben lemes, da pa to, Pak?” Tanya mas Peyek sambil mengaduk Teh Anget. Ada pembeli lain yang minta Teh Anget. “Monggo, mas!, teh nya”, mas Peyek menyodorkan Teh anget tadi ke pembeli.

“Iya, pak Guru!”, tau tau Drajat, Satpam pabrik dalaman wanita cap kumis, juga dekat dekat situ saja, nimbrung. “Es Kopi, Yek!”, katanya sambil membenarkan duduknya. Persis di sebelah Sabri.

“Harusnya pak Guru ini kan senang.”, matanya mengerling ke Sabri,
“Pemerintah akan menaikkan tunjangan kepada guru menjadi satu kali gaji!”, Drajat melanjutkan sambil tangannya membuka bungkusan nasi kucing, “Sendok, Yek!”.

Sabri hanya tersenyum. Dari radio merk tjawang peninggalan mbahnya mas Peyek, mengalir bening tembang Caping Nggunung

Dek jaman berjuang
njur kelingan anak lanang
mbiyen tak openi
ning saiki ono ngendi

“Kamu kok tahu, Jad?”, tanya mas Peyek. Peyek memang serba nggak tahu berita, orang kalau nonton tipi sukanya ngeliat sinetron. Pas giliran berita di bunuh tuh tipi, “emang bener, pak Guru?. Wah seneng dong?, bisa kredit mio

“Justru karena itu aku sedih, Yek!”
“Lho kok bisa?”, mas Peyek nggak percaya. Drajat juga. Berpandangan mereka menunggu penjelasan dari Sabri.
“Berita itu memang benar”, Sabri menjelaskan. Berhenti sejenak menghela nafas, “tapi bukan untuk guru seperti aku ini”.
“Alahh, pak Guru ini guyon, emang guru ada berapa, guru itu semua ya sama. Yang wajib digugu dan ditiru. Wong guru kok beda-beda!”, sanggah mas Peyek lugu.
“Memang ada syaratnya, pak Guru?”, Drajat memang sedikit lebih melek. “Apa yang disebut sertifikat, itu pak Guru?”.
“Sertifikasi”, Sabri membenarkan,
“Itu hanya untuk guru yang sudah mengajar lebih dari 20 tahun”, terawang Sabri. Kali ini ia lebih bicara pada dirinya sendiri.
“oooooo……..”, Drajat dan mas Peyek koor. Bedanya Drajat ada nasi di mulutnya sedang mas Peyek tidak.
“Dan yang usianya sudah 55 tahun”
“oooooo……..”, Drajat dan mas Peyek koor lagi.
“Dan syarat lain yang aku jelaskan pun kalian malah tidak mengerti”

Ketiganya larut dalam diam dengan pikiran masing masing. Mas Peyek manthuk-manthuk tapi tetap bingung mengapa ada guru yang dapat kenaikan gaji dan ada yang tidak. Drajat melayang ke jam 7 nanti malam. Ia mau ngedate pertama sekali dengan Ambar, salah satu bunga pabrik tempatnya bekerja. Ia senyam senyum sendiri, Yesss!! bisik hatinya

Sabri sebenarnya mau berbagi tentang kekecewaannya dengan aturan sertifikasi guru itu. Yang bener saja, lama mengajar minimal 20 tahun, usia minimal 55 tahun, emang sekolah anak-anakku harus nunggu sampai aku berukur 55?. Belum lagi syarat syarat lainnya, begitu sulit untuk ditempuhnya.

Tetapi dipendamnya dalam hati. Ia, Sabri, punya keyakinan, punya pertimbangan, apabila ia mengkritik kebijakan itu di depan orang orang seperti mas Peyek dan Drajat, ia telah ikut andil menjadikan orang orang orang orang seperti mas Peyek dan Drajat tidak respek pada pemerintah. Dan ia tidak mau menjadi seperti itu.

Bagaimana pemerintah akan berwibawa, bila rakyatnya hanya diajari untuk tidak menghargai kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan pemerintah?. Ia juga percaya, bahwa suatu saat nanti, ada kebijakan yang berpihak kepada guru guru sepertinya. Saat ini, biarlah dirinya, Sabri, jalani hari hari dengan HR 200 ribu sebulan.

jarene wis menang
keturutan sing digadang
mbiyen nate janji
ning saiki opo lali

Syarat Sertifikasi Guru Profesional. Sumber Kompas 27 Nov 2007

Posted on November 28, 2007, in Cerita, Obrolan Angkring, Renungan, Umum and tagged , , . Bookmark the permalink. 3 Komentar.

  1. kasihan juga nasib guru honorer,tapi sekarang khan banyak tenaga muda ngajar dan jadi guru,semoga bisa membawa pembaharuan birokrasi pemerhati guru.

    Dek jaman berjuang
    njur kelingan anak lanang
    mbiyen tak openi
    ning saiki ono ngendi

    uenakkk tenannn… dengerin waljinah

  2. -ketika keikhlasan berbuah kemajuan bangsa cuma itu yang kuinginkan

  3. gue suka blog ini! You do a great job, keep it up and thank you for posting.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: