Bediding

Desau kemarau hadirkan pasir debu beterbangan
menampar nampar paparan hari
di antara julangan pokok-pokok cemara
hangus hitam
terbakar sisakan prasasti mati.

Petak ladang retak kerontang
tak setetes asa tinggal di cekung celah tanah keras batu cadas
keriput pecah mengiris perih perut perut lapar
karena kecapan rasa terlanjur bebal
atau air yang tak hadir asrinya?

Di bubungan atap balai desa
burung kematian tancapkan cakar tajamkan paruh
mencabik genteng mengukir pesan
tak peduli buncit kering sayu letih
memelas memendar lunglai anak anak kecil
yang berteduh di secuil ketiak harapan.

Dingin malam menusuk pori pori peraduan

Di persawahan barat desa di petak-petak batang padi yang meranggas
ratusan lelaki bersimbah luka amis darah
mereka berebut air dengan parang
untuk menggenangi dahaga.
: Burung kematian tergagu terpaku kelu!

Posted on November 27, 2007, in Dibuang Sayang, Umum and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: