Membuat Orang Lain Mau Bekerja Untuk Kita

Di terminal bis antar kota di Yogyakarta, berderet banyak bis antar kota. Dari tujuan Denpasar sampai Tujuan Banda Aceh. Anda bertemu dengan teman Anda. Dia tidak tau mau ke mana, karena dia di terminal hanya sekedar main. Di tangan anda ada tiket ke Banda Aceh. Anda sodorkan tiket itu kepada teman anda, sambil anda mengatakan; “Dengan tiket ini kamu bisa sampai ke Banda Aceh dalam 4 hari 4 malam.”

Pertanyaannya: Apakah teman Anda 5 hari lagi sudah sampai di Banda Aceh? Mengapa?

Kepada teman anda yang lain yang anda bertemu di rumahnya, Anda sodorkan tiket ke Denpasar, tiket ke Jakarta, tiket ke Medan kepada teman anda.

Pertanyaanya sama : Dua hari lagi apakah teman anda yang satu ini juga sampai di Denpasar atau Jakarta? Atau apakah 4 hari lagi teman anda sudah sampai di Medan? Mengapa?

Di kesempatan yang lain, anda bertemu dengan teman anda yang lain lagi. Pada hari ketika anda bertemu di rumahnya, hampir tak ada waktu teman anda itu untuk berbincang bincang dengan anda. Ia terlihat sangat sibuk.Anda hanya ditemani ibunya hampir sepanjang anda berada di rumahnya. Sesekali ia menghapiri anda dan meminta maaf kepada anda. Hanya dari penjelasan ibunya, Anda tahu ternyata teman anda ini akan pergi ke Ujungpandang karena ada Sessi Wawancara Untuk Formasi Manajer Wilayah sebuah BUMN. Ia harus sampai di Ujung pandang 2 hari lagi. Tidak Bisa Tidak. Bila dalam 2 hari itu ia tidak sampai di Ujungpandang, sirna sudah kesempatan itu. Anda tidak punya tiket ke Ujungpandang untuk anda tawarkan kepada teman anda itu. Bahkan dari ibunya juga anda tahu, teman Anda masih kelelahan karena seminggu ada hajatan di rumahnya.

Pertanyaanya : Sampaikah teman anda itu 2 hari lagi di Ujungpandang? Mengapa?

Langkah 1. Menemukan Kebutuhan Orang Lain

Orang mau melakukan kegiatan selalu dengan alasan tertentu yang sangat kuat. Kalaupun ada orang melakukan satu kegiatan tanpa alasan, hampir pasti akan berhenti di jalan. Alasan alasan yang ada akan bermuara pada apa yang dibutuhkan oleh orang tersebut. Kalau tidak ada alasan ke Jakarta, walau ada tiket ke Jakarta, untuk apa ke Jakarta?. Alasan tidak harus besar. Tetapi harus khusus dan ada urgensinya. Anda menawarkan upah sebesar Rp. 1.000.000,- untuk satu pekerjaan kepada A. A tidak mau melakukannya karena ia tidak menganggap uang Rp. 1.000.000,- itu penting baginya. Ketika teman anda menawarkan pekerjaan yang sama kepada B hanya dengan upah separuhnya, tanpa menawar B langsung melakukannya. Dan selesai. Ternyata, teman Anda tahu bahwa B pada saat itu harus membayar uang sekolah anaknya sebesar Rp. 400.000,-. Bila tidak, anaknya dikeluarkan dari sekolahnya. Sudah pusing tujuh keliling B mencari pinjaman kemana mana tidak ada. Ia hanya ada Rp. 100.000,- di kantong. Renungkanlah, bahkan ketika teman Anda menawarkan dengan Rp. 300.000,- pun B pasti akan dengan senang hati melakukannya. Anda tahu mengapa? Teman Anda menemukan Need dari B.

Membantu menemukan need seseorang bisa dilakukan dengan berbicara dari hati ke hati tentang daftar kebutuhan kebutuhan penting yang harus dipenuhi baik untuk kebutuhan mendesak, jangka pendek ataupun jangka beberapa tahun ke depan. Bila hal tersebut dapat digali berikut dengan alasan alasan yang sangat kuat, maka need seseorang dapat ditemukan.

Langkah 2. Menunjukkan Solusi Akan Kebutuhan Orang Lain Tersebut.

Solusi disini adalah solusi untuk mengatasi masalah kebutuhannya tersebut. Anda bisa menawarkan sesuai dengan kriteria kebutuhan yang mereka perlukan. Mendesak, jangka pendek atau jangka panjang. Ketika mereka merasa bahwa apa yang anda tunjukkan adalah solusi bagi masalah mereka, maka dengan senang hati mereka akan memperhatikan apa yang akan anda jelaskan.

Tinggal anda menjelaskan secara detail kerangka kerja dari solusi tersebut. Maukah orang tersebut melakukannya setelah mendengarkan penjelasan anda?

Langkah 3. Menunjukkan Nilai Lebih Dari Solusi Yang Anda Tawarkan.

Bisa jadi, selain solusi yang anda tawarkan, orang lain begitu mengetahui kebutuhannya – tidak semua orang menyadari kebutuhannya – sudah mempunyai cetak biru solusinya di kepalanya. bahkan bisa lebih dari satu. Bila anda masih menghendaki orang lain mengerjakan apa yang anda tawarkan, anda harus mampu meyakinkan bahwa solusi yang anda tawarkan mempunyai banyak kelebihan dibanding yang lainnya. Anda harus fair membandingkannya. Anda tidak bisa memaksakan kelebihan itu kepada orang lain. Kesadaran orang lain bahwa solusi anda lebih mempunyai banyak kelebihan akan memudahka orangt tersebut melakukannya sendiri tanpa harus anda menyuruhnya melakukan. Anda hanya menawarkan. Ketika orang lain merasa “Inilah jalannya”, ia akan dengan sendirinya melakukan. Dengan pengorbanan apapun. Tetapi kalau anda paksakan mereka untuk mengikuti kemauan anda, jangan harap mereka bekerja untuk anda seperti yang anda harapkan.

Bagaimana?

Posted on November 23, 2007, in Renungan and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: