Kelembaman Versus Momentum

Dalam Fisika Mekanika dikenal satu hukum yang mengatakan bahwa sebuah benda akan cenderung mempertahankan keadaannya.

Benda yang diam akan cenderung diam. Ini karena adanya Massa dari benda itu dan Gaya Gravitasi Bumi. Disebut Kelembaman. Untuk membuat benda ini bergerak diperlukan sebuah energi yang besar pada awalnya. Baru apabila benda itu sudah bergerak, energi yang dipergunakan untuk menggerakkannya menjadi semakin berkurang.

Benda yang bergerak akan cenderung bergerak. Ini disebut dengan momentum. Apabila benda sudah bergerak dan ia berusaha untuk terus bergerak, kecuali ada gaya yang menghambatnya, maka hanya dengan sedikit tambahan energi saja, kecepatannya menjadi berlipat.

Sifat dasar manusia tak jauh berbeda. Kita cenderung untuk bertahan pada keadaan kita saat ini. Diperlukan energi besar untuk berubah dari kebiasaan. Diperlukan keberanian besar untuk keluar dari batas batas keseharian. Diperlukan pola pikir baru untuk berani menantang arus bawah sadar. Ini diperparah lagi ketika kita sudah berada pada zona aman, zona mapan, zona penghasilan tetap, zona karyawan, zona narimo.

“Begini juga order langganan lama sudah cukup untuk hidup”,
“Begini juga sudah setiap bulan terima gaji”,
“Begini juga nanti kalau tua dapat pensiun”.
“Ala…, Alloh sudah menjamin rizeki mahluk. Cacing dalam tanah saja dapat rizeki, Semut dalam lobang saja sudah ada buku rizekinya”
Dll begini. Intinya ngapain susah susah, begini saja sudah enak.

Sungguh, diperlukan Visi Baru Yang Besar untuk berubah dari pola pikir lama ke pola pikir baru.

Cobalah renungkan dan amati sejenak.

  • Amati rekan seprofesi yang lebih senior , yang telah lebih dulu sekitar sepuluh tahun berkecimpung di bisnisnya dibanding dengan kita.
  • Amati rekan sekantor yang lebih senior, yang telah lebih dulu sekitar sepuluh tahun jadi karyawan dibanding dengan kita.
  • Amati pegawai sekantor yang lebih senior, yang telah lebih dulu sekitar sepuluh tahun jadi pegawai dibanding kita.
  • Amati kompetitor bisnis yang lebih senior, yang yang telah lebih dulu sekitar sepuluh tahun memulai usaha bisnisnya dibanding kita.

Amati dan renungkan hal diatas disetiap mau beranjak tidur.
Camkan ini dalam hati kita.
Mereka adalah cerminan kita 10 tahun kedepan.
MEREKA ADALAH GAMBARAN KUALITAS KEHIDUPAN KITA 10 TAHUN KE DEPAN!!!

Bila ternyata mereka sukses pada saat ini, sesukses apa yang kita cita citakan 10 tahun lagi, ikutilah gaya bisnis mereka, ikutilah etos kerja mereka, belajarlah kepada mereka. Bekerja keraslah 5 kali lipat dari apa yang mereka nasehatkan. Karena biasanya mereka hanya memberi 20 persen saja.

Bila ternyata mereka hidupnya berkualitas pada saat ini, sekualitas kehidupan yang kita cita citakan 10 tahun lagi, ikutilah gaya bisnis mereka, ikutilah etos kerja mereka, belajarlah kepada mereka. Bekerja keraslah 5 kali lipat dari apa yang mereka nasehatkan. Karena biasanya mereka hanya memberi 20 persen saja.

Namun apabila ternyata mereka masih tetap sama seperti kita pada saat ini, kualitas kehidupan mereka sama persis seperti kita saat ini, maka kita perlu berpikir ulang, bahwa kita berada di rel yang salah, bahwa kita perlu merubah haluan kita dari hal yang biasa mereka dan kita lakukan saat ini, menjadi hal hal yang di luar kebiasaan yang mereka dan kita lakukan. Karena Mereka adalah cerminan kita 10 tahun kedepan. Karena mereka adalah gambaran kualitas kehidupan kita 10 tahun kedepan!!!

Sungguh, diperlukan Visi Baru Yang Besar untuk berubah dari pola pikir lama ke pola pikir baru.

Dalam sebuah kesempatan bincang bincang dengan Dodi “Oik” Permana, kakak kandung Ahmad Dani pentholan Dewa 19, saya pernah bertanya, apa kiat untuk membangkitkan inner power seseorang agar mau berpola pikir baru, beliau mas Oik mengatakan;

“Bangunlah pada jam 3 pagi, bersuci, ambil air wudhu, shalat tahajud, kemudian pandangilan wajah anak anak kita yang terlelap tidur. katakan kepada hati kita yang terdalam, bahwa kepada kitalah mereka menggantungkan harapan, bukan kepada yang lain. Seperti apa sepuluh tahun lagi kualitas kehidupan mereka, adalah apa yang kita lakukan saat ini yang paling berperan menentukannya.”

“Lakukan itu terus menerus setiap hari, insya Alloh semangat untuk berubah akan terus membara”.

Dan masih banyak cara yang lain.
Visualisasi pergerakan dari diam ke menemukan momentum adalah sebagai terlihat dalam ilustrasi di bawah ini.

zona11.jpg

Warna merah menunjukkan betapa susahnya melakukan upaya upaya perubahan dari kebiasan tidak bergerak menjadi bergerak. Betapa beratnya melakukan kebiasaan baru, melakukan usaha baru. Energi yang dikeluarkan demikian besar.

Usaha baru memaksa kita mencurahkan waktu tambahan, pikiran tambahan, dana tambahan, dlsb yang biasanya tidak ada. Padahal perlu waktu lama agar satu usaha baru berjalan. Apalgi mendatangkan ceruk keuntungan.

Coba bayangkan bila berada di Zona merah, kita berhasil bergerak berubah dari kebiasaan lama ke kebiasaan baru, dan kita sejenak berhenti karena kecapaian, atau usaha kita mengalami hambatan serius, atau apapun yang terjadi yang biasanya orang menyebut dengan kegagalan. Gaya gravitasi dari pola pikir negatif kita, dari orang orang yang negatif disekitar kita, akan mencegah kita agar kita tidak bergerak lagi.

Istri kita akan berkata; “Sudahlah Mas, tidak usah ngoyo, nanti kalau sakit kan kita repot sendiri”
Anak anak kita akan berkata; “Yah, wong gak punya pengalaman dibidang itu kok nekad, ya gagal akhirnya ”
Teman teman kita akan datang; “Ayo, apa sih yang kamu kejar?”

Dan sekali kita terlena dengan rengekan mereka, kita akan larut dalam energi negatif kita. Kita berhenti lebih lama dari usaha yang kita lakukan, kita akan terseret ke bawah lagi, dan kita tahu betapa beratnya untuk memulai lagi. Dana lagi, waktu lagi, pikiran lagi.

Hati hati, bila kita sudah mempunyai pola pikir baru, visi baru, dan masih berada zona merah ini, maka kita selayaknya berteman dengan orang orang yang telah sukses, menimba ilmu, meminta petunjuk, berkumpul dengan mereka, karena mereka biasanya adalah orang orang yang berpola pikiran positif. Dapatkan aura positif dari perbincangan mereka. Dapatkan semangat dari mereka.

Namun bila kita berada di zona merah dan selalu berada dalam lingkaran aura negatif, bersiap-siaplah kita untuk suatu saat sadar, bahwa orang orang negatif ini – tak jarang orang orang tercinta kita – telah mencuri visi kita, telah mencuri impian kita, telah mencuri cita cita kita, telah mencuri momentum kita.

Jangan pernah berhenti di Zona Merah!!

Warna kuning menggambarkan, apa yang kita kerjakan mulai membuahkan hasil. Pelanggan sudah didapat, pekerjaan sudah didapat, penghasilan sudah mampu menutupi kebutuhan standar hidup. Zona sudah aman. Kita sudah bisa tersenyum. Tetapi disini ada hambatan baru yang muncul. Karena kita sudah berada di zona aman, kadang kita terlena, merasa puas dan berhenti di zona ini. Kelembaman menghadang lagi. Akhirnya kita terus berada di zona kuning. Zona aman. Kita stagnan di sini, di garis datar perjuangan, di sebuah pencapaian.

Kalau kita di ciptakan Alloh untuk menjadi khalifah, mengapa kita berhenti di sini, di sebuah pencapaian?. Segitukah potensi kita? Atau masih lebih jauh lagi kita bisa melangkah?

Bila pola pikir dan visi baru tetap menyertai kita, maka kita akan kembali ke zona merah level 2, upaya untuk meninggalkan zona aman menuju titik momentum, untuk kemudian sampai pada tahapan melejit.

Dalam artian bukan diversifikasi usaha, melainkan penajaman kualitas dan kebesaran imperium usaha kita, apa yang kita lakukan di zona kuning adalah menyisihkan hasil usaha untuk alat alat baru pendukung usaha, pendidikan SDM orang orang yang mendukung Zona aman, pendelegasian tampuk pengambil keputusan level zona aman ini dan penanaman modal baru untuk membuka usaha serupa di lain tempat.

Ada dua hal penting yang bisa disimpulkan.

  • Pembukaan usaha serupa di tempat lain adalah pengulangan level 1.
  • Pendidikan SDM, pendelegesaian tampuk pengambil keputusan adalah proses duplikasi agar apa yang kita lakukan mampu dilakukan oleh SDM kita. Ini adalah upaya menyiapkan SDM kita menuju Level di atasnya. Ada proses Training dan leadership yang sangat dominan di proses ini yang menjadi akar dari duplikasi usaha kita. Karena kita akan menjadi Superteam dan bukan Superman.

Dengan demikian apabila proses ini terus menerus dilakukan, terduplikasi disetiap level, berarti titik momentum itu telah datang kepada kita. Maka meluncurlah zona putih dan terbentuklah Piramida Imperium Bisnis yang sangat besar di mana kita berada dipuncaknya. Dimana bukan kita yang mendorong dan menyokong bisnis kita, tetapi bisnis kita, sistem yang kita perjuangkan yang mendorong dan menyokong kita. Inilah yang disebut dengan istilah “Pasif Income”.

Bila di setiap level kita berbisnis dengan arif dan adil, bukankah kita telah memberikan ayoman kepada banyak orang yang ikut menyokong sistem kita?. Bukankah itu berarti kita lebih bermanfaat dibanding dahulu?. Itulah sebagian makna khalifah yang layak kita kejar.

Pertanyaannya:

  1. Bisakah orang di level bawah kita menjadi seperti kita?
  2. Bagaimana proses duplikasi terjadi?
  3. Bagaimana bila orang di level bawah kita hengkang dan mendirikan Imperium bagi dirinya?
  4. Powered by : Crystal X

Posted on November 22, 2007, in Motivasi, Renungan and tagged , , . Bookmark the permalink. 3 Komentar.

  1. Authentic words, some true words dude. You rocked my day!

  2. mantab mas, sangat bermanfaat. sekarang tinggal bagaimana mengenali momentum tersebut dan langsung memanfaatkannya agar kita lebih produktif. thanks.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: