Cita cita versus keinginan

Gantungkan cita-citamu setinggi langit.

Mengapa tidak ada petuah “Gantungkan keinginanmu setinggi langit”?.

Cita cita, dreams, adalah sesuatu yang sangat diinginkan untuk dicapai oleh seseorang. Bahkan bertaruh dengan apapun, selama masih masuk akal maka segala upaya akan dilakukan. Tetapi mengapa banyak orang tidak dapat meraih apa yang dicita-citakan?.

1. Kurang atau tidak adanya komitmen.

Komitmen adalah satu keputusan dan keteguhan hati untuk melakukan sesuatu. Komitemen dipunyai apabila seseorang telah menemukan alasan pasti dan kuat tentang satu hal. Apakah ia mau melakukannya atau tidak melakukannya.  Komitmen berkaitan erta dengan visi, dreams, seseorang. Orang yang tidak punya visi atau dreams sangat mustahil membangun sebuah komitmen.

2. Kurang atau tidak ada action.

Seteguh apapun komitmen, tanpa dibarengi dengan action, langkah nyata, maka semuanya tinggal angan-angan, tinggal keinginan, tak pernah akan terwujud.  Action adalah proses menuju terwujudnya cita-cita. Orang barat bilang “Tak ada makan siang gratis”.  Islam menyebutnya Ikhtiar.

Kualitas dari action tentu juga merupakan hal yang tak dapat di tawar. Kulaitas mencakup persiapan, kesiapan, perencanaan dll.

3. Kurang atau tidak adanya konsistensi action

Action yang dilakukan tanpa konsistensi hanya akan berbuah kegagalan. Action harus dilakukan terus menerus, meski kadang kala berhenti sejenak untuk menyusun strategi, menganalisa yang telah dilakukan. Orang suskes mengatakan, bangkitlah sekali lagi setiap kali anda gagal, maka anda pasti menjadi orang suskes.

Kadang orang menyebutnya dengan Resistensi. Seberapa tahan anda melakukan sesuatu. Seberapa ngotot anda berusaha. Tomas Alfa Edison  baru menemukan lampunya menyala pada percobaan yang ke 10.000. Dan ketika ditanya “Tuan Alfa Edison, apa yang akan anda lakukan apabila ternyata percobaan yang ke 10.000 ini juga galal?”. Anda tahu jawabnya? “Pertanyaan anda salah, bagaimana saya harus menjawabnya? Perlu anda ketahui, saya tidak pernah gagal 99.999 kali. Tetapi saya menemukan 99.999 cara membuat lampu pijar yang salah”.

Konsistensi atau resistensi akan action adalah upaya untuk menemukan sebuah momentum. Momentum untuk bergerak. Momentum untuk melejit.

Komitmen, action, konsistensi adalah “Wit pedang woh pakel. Omomg gampang ngalokoni angel.“. Tetapi inilah kuncinya mengapa biasanya seseorang mampu memegang ketiga hal tersebut.

1.  Orang tersebut punya alasan yang sangat kuat akan cita citanya.

Apabila anda mampu menemukan alasan yang sangat kuat mengapa sesuatu harus terjadi pada anda dalam jangka waktu tertentu, dan anda mengerti betul akibat yang ditimbulkan apabila hal itu tidak terjadi, bahkan hanya dengan membayangkan saja  bahwa hal itu tidak terjadi anda bisa merasakan akibatnya bahkan sampai menangis menderita, maka anda pasti akan berupaya dengan semaksimal mungkin berusaha agar hal itu terjadi.

2. Orang tersebut selalu ingat dengan penderitaan yang timbul sebagai akibat dari  ketidak tercapaian cita citanya.

Apabila anda selalu ingat pada penderitaan tersebut,  maka anda akan selalu termotivasi untuk berusaha mengejar cita cita anda. Anda akan mampu konsisten. Anda akan mampu resisten. Anda akan mampu bangkit sekali lagi setiap anda gagal. Karena apa? Karena anda tidak ingin tertimpa penderitaan yang sudah anda bayangkan.

Posted on November 20, 2007, in Renungan and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: